Search Engine

Jumat, Oktober 03, 2008

Suku Anak Dalam : PT. Asiatic Persada Berdiri di Atas Tanah Kami

Orik [55] adalah satu dari sekian ribu anggota Suku Anak Dalam Kubu Bahar [SAD] yang geram dengan sikap pemerintah. “Tanah adat desa lama kami diserobot perusahaan. Kami diusir. Tahun lalu BPN [Badan Pertanahan Nasional – Red] sudah turun ke lapangan. Mereka akui tanah kami masuk HGU, tapi mengapa sampai sekarang belum dikembalikan pada kami?” tanyanya.Orik termasuk satu dari sedikit anggota SAD yang masih berani mendirikan gubuk dan pekarangannya di areal kebun PT. AP. Meskipun sering ditajut-takuti oleh aparat keamanan tapi Orik dan kawan-kawan tidak mundur. Karena gubuk yang dia dirikan terletak di atas tanah adat. Tanah adat desa lama tersebut terdiri dari tiga wilayah administrasi yang sering disebut sebagai Desa Padang Salak, Desa Pinang Tinggi dan Desa Tanah Menang.Sementara HGU yang dimaksud Orik adalah hak guna usaha yang dimiliki PT. Asiatic Persada [PT. AP], salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit yang menginduk pada WILMAR Group Malaysia. Awalnya HGU tersebut diberikan pemerintah kepada PT. Bangun Desa Utama di tahun 1987. Namun di tahun 1992 telah terjadi pengalihan kepemilikan kepada PT. AP.BPN Jambi memang telah melakukan penelitian lapangan pada 19-25 Juli 2007 yang lalu. Penelitian tersebut berdasarkan surat Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia bernomor 2027 – 610.3 – DV.1 tentang ‘Percepatan penyelesaian konflik tanah masyarakat adat orang Kubu yang terletak di tiga desa yaitu Desa Padang Salak, Desa Pinang Tinggi dan Desa Tanah Menang Kec. Sungai Bahar Kab. Batang Hari Propinsi Jambi’ tertanggal 28 Juni 2007.“Surat tersebut dikeluarkan karena desakan perjuangan massa SAD di Jambi sejak 1987,” kata Donny Pradana WR dari Komite Pimpinan Pusat Serikat Tani Nasional [KPP STN]. Bersama LSM Setara Jambi, KPP STN bergiat aktif mendukung perjuangan massa SAD sejak pertengahan 2006. “Kamipun telah menyampaikan protes pada pimpinan WILMAR Group di Malaysia untuk memperhatikan permasalahan ini sebagai salah satu tanggung jawabnya dalam forum RSPO [Roundtable Sustainable Palm Oil]” ujar Rukaiyah Rofiq Direktur Setara Jambi.menambahkan.Hasil PenelitianBastian Helmi NIP 010150365 dan Samson NIP 010152046 dari BPN Jambi diserahi tanggung jawab sebagai pelaksana penelitian. Kegiatan mereka dilaporkan dalam dokumen berjudul Laporan Hasil Penelitian Konflik Tanah Masyarakat Adat Orang Kubu Kelompok Padang Salak, Pinang Tinggi dan Tanah Menang Kecamatan Sungai Bahar Kabupaten Muaro Jambi Propinsi Jambi berikut dengan peta.Mengutip salah satu hal penting yang termuat dalam laporan itu adalah ‘tanah masyarakat dat kubu tiga kelompok Padang Salak, Pinang Tinggi dan Tanah Menang di lapangannya adalah areal yang terletak diantara Sungi Merkanding, Sungi Temidai, Sungai bahar dan Sungai Samiyo dan seluruhnya masuk dalam HGU dimaksud dan terletak dalam wilayah Desa Merkanding Kecamatan Sungai bahar Kabupaten Muaro Jambi dan Desa Bungku Kecamatan Bajubang Kabupaten Batanghari’.Namun dalam dokumen yang sama, Bastian dan Helmi justru menyetujui rencana PT. AP yang bermaksud memberikan 1000 hektar areal di luar HGU yang dimilikya kepada SAD melalui pola kemitraan/plasma sebagai jalan keluar penyelesaian konflik. “Kami menolak keras. Masayarakat kami hanya ingin tanah adat kembali!” tegas Orik yang juga kepala desa lama Padang Salak. Pendapat Orik juga didukung oleh Abas [41] kepala desa lama Tanah Medang dan Nurman [45] kepala desa lama Pinang TInggi.Padahal, 1000 hektar areal yang akan diberikan oleh PT. AP tersebut adalah areal perkebunan PT. Maju Perkasa Sawit yang terlantar dan telah digarap oleh masyarakat dari Desa Bungku. “Kalau kita terima tawaran itu, sama saja dengan mengadu domba SAD dengan orang Desa Bungku,” sergah Husein Aroni [60], ketua adat SAD dan Asnawi [65], ketua Yayasan Masyarakat Adat Kubu hampir bersamaan.Lain halnya tanggapan BPN Jambi. Menurut mereka dokumen tersebut bukanlah sikap resmi institusi. Masih diperlukan kajian lanjutan di bidang sosio-kultural SAD yang berkaitan dengan asal-usul komunitas tersebut.Namun hingga menjelang artikel ini disusun, BPN Jambi tak kunjung menerbitkan laporan resmi hasil penelitian. Hal ini justru menjadikan SAD makin resah dan persoalan makin berlarut larut.Pemetaan PartisipatifGuna memantapkan klaim adapt atas tanah SAD yang diserobot PT. ATP, LSM Setara Jambi bekerjasama dengan Yayasan Masyarakat Adat Kubu mengadakan pemetaan di lapangan pada Juli 2008. “Data dan informasi lapangan kami digitalisasi. Agar batas-batasnya akurat dan dapat diukur luasannya,” ujar Ade, aktifis LSM Setara Jambi.Husein Aroni menambahkan bahwa SAD bermaksud mendesak juga pada Gubernur Jambi dan para bupati dimana PT. AP beroperasi agar turut mendukung penyelesaian konflik. “Karena pemerintahan propinsi juga harus bertanggung jawab terhadap masalah yang menimpa kami,” tandasnya.Mewakili SAD, Husein Aroni menyatakan tiga tuntutannya yakni; pertama, segera publikasikan berita acara resmi hasil penelitian BPN Propinsi Jambi; kedua, segera kembalikan lahan tanah dusun hak milik dalam waktu singkat disertai dengan surat kesepakatan bersama demi kekuatan hukum; ketiga, apabila lahan tanah tidak segera dikembalikan secara resmi melalui fasilitasi pemerintah, maka SAD akan mengambil alih sepihak karena semua proses damai telah dilalui dengan sabar.
Sumber : www.serikat-tani-nasional.blogspot.com

Jumat, September 26, 2008

Sunset di Ancol


Suatu senja saya bersama keluarga berjalan-jalan ke Ancol (tepi batanghari depan rumah dinas Gubernur Jambi), kami mampir di tempat jajanan yang telah disediakan berupa kios-kios tanpa dinding. Beraneka makanan dan minuman yang di jajakan di sana, dari minuman es tebu hingga berbagai juice buah-buahan, makanan ringan seperti jagung bakar aneka rasa hingga santapan malam. Sambil menikmati aneka makanan, mata saya memandang ke daerah seberang kota jambi, pas waktu itu matahari mau terbenam, indah juga pemandangan sunsetnya, tidak perlu jauh-jauh ke tepi pantai lagi. Namun keindahan alam tersebut, tidak luas tempat untuk menikmatinya, tepian sungai sekitar tersebut telah berdiri Mall-mall seperti Ramayana dan WTC. Dari WTC bisa dinikmati sambil istirahat di outlet makanan, tetapi tidak menikmati seindah di alam terbuka dengan hembusan angin sepoi-sepoinya.

Sabtu, September 13, 2008

Tugu / Monumen di Kota Jambi

Tugu/Monumen di Kota Jambi
Tugu Selamat Datang, berada di Kelurahan The Hok Kecamatan Jambi Selatan dekat Bandara Sultan Taha, merupakan simbol atau ucapan Selamat Datang menyambut kedatangan tamu yang disimbolkan oleh patung penari dalam posisi menari "sekapur sirih". Hal ini mencerminkan bahwa masyarakat Jambi menerima dengan tangan terbuka siapa saja yang ingin berkunjung ke Jambi.
Tugu Selamat Datang berdampingan dengan Tugu Adipura, Adipura merupakan penghargaan yang diberikan oleh Pemerintah Pusat kepada Kabupaten/Kotamadya/Kota yang bersih lingkungannya. Kota Jambi telah beberapakali menerima Adipura beberapa tahun sebelumnya.
Tugu Juang, terletak di persimpangan Sipin Ujung, sesuai dengan namanya Tugu Juang dibuat untuk mengenang perjuangan masyarakat Jambi dalam menghadapi penjajah, dimana berdiri Patung Pejuang yang bersenjatakan bambu runcing yang merupakan senjata tradisional yang digunakan pejuang kita dalam perjuangannya untuk membela tanah air tercintanya ini.
Tugu Kota Baru, terletak di persimpangan Komplek Perkantoran Pemda TK II Kota Jambi. Tugu Kota baru merupakan merupakan Monas nya Kota Jambi.

Tugu Sekapur Sirih, terletak di persimpangan dekat Jembatan Makalam. Tugu ini dibangun untuk mencerminkan masyarakat Jambi yang ramah dan beradat (menjunjung tinggi adat dan norma2 masyarakat )







Rabu, Agustus 20, 2008

Memancing Suatu Alternatif di Waktu Liburan


Memancing di kolam, merupakan suatu alternatif aktifitas hiburan yang mengasyikkan di waktu liburan bagi pemancing (hobbi atau sekedar ikut-ikutan), selain melatih kesabaran, memancing dapat menghilangkan stress karena kesibukan kerja atau aktifitas sehari-hari. Dan juga memancing di kolam pemancingan tidak memerlukan biaya yang besar (murah meriah oiii)
Di Kota Jambi telah banyak bermunculan kolam pemancingan dengan berbagai sarana dan prasarana pendukungnya. Pada umumnya kolam pemancingan memelihara ikan mas sebagai sasaran bagi pemancing, tapi ada juga yang menyertakan ikan lain seperti ikan nila, gurame atau ikan bawal dll.
Untuk dapat memancing di kolam pemancingan pengunjung harus menyetorkan uang atau dikenakan biaya untuk memancing di kolam tersebut.
Kolam pemancingan yang menyertakan sarana restoran, memberi kemudahan bagi pemancing untuk dapat langsung menyantap hasil tangkapannya. Menikmati masakan ikan yang baru ditangkap dari kolam memiliki rasa/aroma kenikmatan tersendiri bagi pemancing.

Jumat, Agustus 15, 2008

Petani...Oh....Petani


Sejuknya mata memandang di kala terhampar luas bentangan sawah berwarna hijau dikala musim tanam atau kuning keemasan di saat musim panen tiba.
Akankah kita akan dapat selalu memandang hamparan luas yang indah tersebut di kala penghasilan yang diperoleh petani jauh di bawah komoditi lain seperti sawit atau karet. Lama kelamaan petani akan tergiur merubah lahannya jadi kebun sawit atau karet, apakah kita akan dapat mengkonsumsi nasi lagi?
Pada saat sekarang telah banyak lahan persawahan yang beralih fungsi menjadi lahan perkebunan.
Di Negara Indonesia, dukungan buat petani tidak memadai, dimana petani sering mengalami kelangkaan pupuk, harga dasar gabah yang rendah dan kurangnya pembinaan dan pelatihan bagi petani. Alangkah sedihnya nasib petani, mereka selalu terhimpit oleh masalah perekonomian, dihadapkan pada banyak dilema.
Saya ada membaca artikel di Kompas.com tentang nikmatnya menjadi petani di Amerika terutama di Minot, North Dakota. (di tulis oleh A. Wisnubrata)
Apa yang terjadi jika panen Pak Amat di Jambi atau Bang Lapuk di Bungo gagal? Keluarga mereka pasti akan mengalami kesulitan setelahnya. Bisa jadi mereka terpaksa makan nasi aking, menggadaikan barang-barang, dan menunggak bayaran sekolah anaknya. Tapi bila mereka adalah petani di Amerika Serikat, hal seperti itu sepertinya tak akan terjadi. Pasalnya pemerintah akan mengganti kerugian gagal panen mereka.
Jaminan dari pemerintah adalah salah satu kenikmatan yang didapat para petani. Selain jaminan gagal panen, para petani AS juga mendapat bantuan pengetahuan dan teknologi dari berbagai pihak, terutama universitas. Mereka bisa dengan mudah mendapat informasi bibit unggul terbaru, kondisi cuaca harian, bahkan harga berbagai jenis panenan. Itu artinya para petani diharapkan akrab dengan teknologi dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Jay Fisher, direktur Pusat Riset Distrik di North Dakota State University, petani memang sudah menggunakan internet untuk mencari berbagai informasi. "Petani di North Dakota sebagian besar memiliki akses internet dari rumahnya," ujar Fisher saat ditemui Senin (28/7) di pusat riset di pinggiran kota kecil Minot, North Dakota.
Selain di rumah, para petani dan peternak bisa berkumpul di pusat riset untuk mengikuti ceramah tentang produk pertanian atau peternakan. Bukan hanya mendengarkan para peneliti lokal, mereka juga bisa bertanya atau sharing dengan peneliti di lokasi lain secara teleconference. "Akibatnya petani menjadi akrab dengan teknologi. Mereka bahkan menentukan apa yang akan ditanam atau di mana hasil panen akan dijual melalui internet," ujar Fisher.
Kedekatan para petani terhadap teknologi juga terlihat dalam penggunaan alat-alat pertanian mereka. Selain mesin-mesin besar yang dipakai memanen, mereka juga memiliki perlengkapan penanda lokasi semacam GPS (global positioning system) yang bisa menuntun jalannya traktor sehingga tidak belok ke lahan orang. Alat ini sangat penting mengingat tiap petani menggarap rata-rata 1.000 hektar lahan. Dengan ketepatan alat ini, lahan-lahan pertanian terlihat rapi terkotak-kotak dari atas langit North Dakota.
Lalu hal apa yang bisa ditiru petani Indonesia? Sulit memang mencontoh penggunaan mesin-mesin besar dalam proses pertanian karena lahan para petani Indonesia tergolong amat kecil. Kebanyakan petani juga bukan pemilik lahan melainkan penggarap. Namun teknologi dan informasi tetap bisa dimanfaatkan. Petani sayur di Buleleng, Bali, misalnya sempat meneguk keuntungan setelah mereka melalui internet berhasil mengetahui kebutuhan pasar. Ada pula petani kacang di Jawa Timur yang menemukan pembeli setelah menjelajahi dunia maya. Tak jarang di antara mereka membentuk komunitas online untuk saling bertukar pikiran.
Permulaannya memang sulit. Kebanyakan petani Indonesia bercerita bahwa mereka sangat takut mengoperasikan komputer. Takut keliru, katanya. Tapi itu bukan hanya masalah di Indonesia. Petani Amerika pun mengalami hambatan serupa. "Awalnya sulit mengajak mereka memanfaatkan internet," papar Fisher. "Namun setelah beberapa orang mendapatkan manfaat, yang lain akhirnya tertarik."
Hal lain yang dirasa sangat membantu petani adalah mudahnya mengakses informasi pertanian lewat internet. Situs North Dakota State University misalnya menyediakan hasil-hasil penelitian mereka yang terbaru mengenai hama dan sistem pertanian. Itu juga pasti bisa dibangun di Indonesia. Yang sedikit sulit mungkin adalah memastikan petani akan mendapat ganti rugi bila panen mereka gagal. Namun bisa jadi itu bukan hal yang mustahil kelak. Dan bila sudah begitu, produk pertanian kita mungkin bisa bersaing di pasar dunia. Siapa tahu?
Sumber : http://www.kompas.com/read/xml/2008/08/08/18040358/nikmatnya.jadi.petani.amerika
Hal ini merupakan pekerjaan rumah bagi para pemikir negara kita baik yang di badan legislatif maupun di badan eksekutif.